Jumat yang Tak Dirindukan

Share:

Oleh: Abu Teuming
Penyuluh Agama Islam Kece

 "Jumat itu dimulai sejak matahari tenggelam di ujung Kamis dan berakhir di awal Sabtu. Persiapkan jumatmu sejak permulaan malam. Hidupkan malam Jumat dengan segudang ibadah dan akhiri jumatmu dengan prestasi ampunan Allah."

Jumat merupakan hari pengampunan dosa antara Jumat ini ke Jumat berikutnya. Hari yang di dalamnya tersembunyi waktu mustajabah untuk memanjatkan doa. Alangkah ruginya mereka yang telah disediakan Allah hari pengampunan, namun enggan memanfaatkan peluang emas itu. Sungguh disayangkan mereka yang senantiasa berdoa dan berharap doanya dikabulkan Allah, tetapi tidak menghiraukan hari yang di dalamnya tersembunyi saat makbul berdoa.

Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata hari ini dinamakan Jumat karena turunan dari kata al-jam’u yang berarti perkumpulan, sebab umat Islam berkumpul pada hari itu setiap pekan di balai-balai pertemuan yang luas. Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin berkumpul untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”, (QS. Al-Jumu’ah:9).

Al-Hasan Al-Bashri berkata, demi Allah, sungguh maksud ayat di atas bukanlah berjalan kaki dengan cepat, karena hal itu jelas terlarang. Tetapi yang diperintahkan adalah berjalan dengan penuh kekhusyukan dan sepenuh hasrat dalam hati.

Tiada hari yang lebih berharga bagi umat Islam dalam sepekan melebihi hari Jumat. Allah telah memuliakan hari Jumat bagi hamba-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah diriwayatkan Abu Hurairah, “Sebaik-baik hari adalah hari Jumat, karena pada hari itulah Adam diciptakan, pada hari itu pula dia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu pula dia dikeluarkan darinya.” (HR. Muslim).

Dalam catatan Ibnu Qayyim Al-Jauziy tersirat, hari Jumat memiliki 33 keutamaan. Imam As-Suyuthi merangkul sekitar 1001 keistimewaan terkandung pada hari Jumat. Satu hal yang sangat dinantikan umat Islam adalah waktu mustajabah berdoa. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya dalam hari Jumat ini, ada suatu waktu yang tidaklah seorang muslim menemuinya (hari Jumat) sedangkan ia dalam keadaan berdiri salat memohon sesuatu kepada Allah, melainkan akan Allah berikan padanya”, (Muttafaq ’Alaihi).

Ibnu Qayyim menyaring pendapat ulama, terdapat dua pendapat yang paling rajih. Keduanya terdapat dalam satu hadis sahih. Pertama, waktu ijabah tersebut mulai saat imam duduk sampai terlaksana salat Jumat. Pendapat ini berdasarkan hadis, “Waktu ijabah tersebut yaitu di antara duduknya imam sampai ditunaikannya salat”, (HR Muslim).

Kedua, usai waktu Asar. Inilah pendapat yang paling kuat. Para sahabat tidak menyia-nyiakan kesempatan yang tersembunyi di balik hari Jumat. Mereka akan menghentikan segala aktivitas, meninggalkan jual beli lalu menunaikan sunat dan kewajiban pada hari Jumat. Anas bin Malik berkata, “Kami berpagi-pagi menuju salat Jumat dan tidur siang setelah salat Jumat”, (HR. Bukhari).

Ibnu Hajar Al-Asqalani menerangkan hadis tersebut. Hadis ini bermakna para sahabat memulai salat Jumat pada awal waktu sebelum mereka tidur siang. Sedangkan pada hari lainnya para sahabat salat Duhur ketika suhu tidak ekstream. Sesungguhnya para sahabat tidur terlebih dahulu, kemudian salat ketika matahari mulai berkurang hawa panasnya.

Jumat menjadi sumur baru bagi umat Islam untuk menyucikan lahir batinya dari segenap dosa hari-hari sebelumnya. Ampunan yang akan diperoleh manusia pada hari Jumat melalui tahap berwuduk secara sempurna, mendengarkan khutbah, meninggalkan gerakan yang sia-sia seperti mempermainkan kerikil atau bermain handphone dalam konteks kekinian, selanjutnya menunaikan salat Jumat secara khusyu’.

Imam Al-Ghazaly berpesan, alangkah baiknya manusia meninggalkan urusan duniawi yang berlebihan bila hari Jumat tiba, serta apa pun aktivitas yang menghambat dapat hadir pada salat Jumat, sebab sanksi yang diberikan oleh Allah cukup tegas. Sebagaimana sabda Nabi, “Barang siapa yang meninggalkan (salat) Jumat tiga kali tanpa halangan syar’i (‘udzur) niscaya dicapkan oleh Allah pada qalbunya”, (HR. Ahmad).

Catatan lain mengisyaratkan, mereka yang meninggalkan Jumat tanpa alasan yang dibenarkan agama, sama halnya telah melempar Islam ke belakangnya. Artinya tidak membutuhkan lagi terhadap agama ini.

Dikisahkan, seorang lelaki menjumpai Ibn Abbas. Ia bertanya terkait kematian seorang yang tidak pernah salat Jumat. Ibn Abbas menjawab, dalam neraka. Ia terus mencari keterangan sampai sebulan lamanya, namun Ibn Abbas tetap memberikan jawaban yang sama, ia dalam neraka.

Ka’ab berkata, Allah melebihkan Mekah dari segala negeri, ramadan dari segala bulan, Jumat dari segala hari dan lailatul qadar dari segala malam. Burung dan hewan yang saling berjumpa berucap, “selamat selamat, hari yang baik.”

Imam Al-Ghazaly bila hari Jumat tiba senantiasa menghidupakan dengan berbagai amalan. Jumat merupakan hari yang dianjurkan untuk memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad. Imam Al-Ghazaly berpesan, bacalah, “Ahmadurrasulullah Muhammadurrasulullah” sebanyak tiga puluh lima kali ketika khatib mulai naik atas mimbar. Setelah salat Jumat ia mengamalkan bacaan surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas masing-masing tujuh kali. Kemudian ia menganjurkan memperbanyak doa usai salat Jumat.

Meski Jumat adalah kewajiban bagi lelaki, namun tiada salahnya kaum wanita mengamalkan di rumah setelah salat Zuhur seperti dicontohkan Imam Al-Ghazaly.

*Penulis buku "1001 Pesan Abimu"



1 comment:

  1. Masih ada beberapa dari kalangan milenial yang melaksanakan ibadah shalat Jumat tanpa mengetahui rukunnya sehingga hukumnya pun akan berbeda.

    ReplyDelete

Silakan beri tanggapan dan komentar yang membangun sesuai pembahasan artikel.