Cerpen; Gempa di Ujung Tahajud

Share:

Oleh Abu Teuming
Penyuluh Agama Islam Kece dan penikmat sastra

SALWA memperlihatkan riak wajah buram saat pertama kali menginjak kaki di lembaga pendidikan, Pesantren Budi, berlokasi di bawah kaki Gunung Geurutee, Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Ia memang gadis anggun yang antusias mempelajari agama sejak usia enam tahun. Menjadi sosok wanita muslimah berpengatahuan agama sudah menjadi mimpinya sejak kecil. Di desanya, gadis lugu berkulit cerah itu dikenal sebagai wanita manja yang tidak pernah hidup berjauhan dengan orang tua. Sejak dilahirkan sampai berusia empat belas tahun, tiada hari tanpa melihat wajah sang bunda dan ayahnya. Sayangnya, hari ini ia seakan kehilangan orang tua yang selalu mencurahkan perhatian kasih sayang untuknya.

“Salwa, jangan bersedih nak! Engkau di pesantren akan mengenal agama dan justru lebih dekat dengan bunda dan ayah lewat agama,” ucap bunda Salwa memotivasi anak gadis semata wayang, sembari menyeka air mata yang membasahi pipi gadis bermata bening itu.

Dalam diam, Salwa menganggu-nganguk kepala. Seakan ia mengisyaratkan akan tetap tegar bertahan di taman syurga, Pesantren Budi. Ntah apa yang dilakukan ibunya, Salwa pun tampak rela menetap. Dalam senyum berpadu sedih, tangannya melambai melepaskan orang tua yang akan kembali ke kediamannya di Meuredu, Kabupaten Pidie Jaya. Walau berat, Salwa tetap akan menjalani hari-harinya tanpa orang tua. Ia berjanji pada jiwa lemahnya, akan kuat dan tekun mendalami agama sebagaimana pesan bunda.

Gadis berpostur semampai itu sangat rajin mengulang pelajaran. Hidupanya kini telah disibukkan dengan kertas kuning bertuliskan arab. Ntah mengapa, kitab-kitab itu membuat Salwa amat mudah berlinang air mata, seakan ia menerima cahaya setiap menatap aksara arab.

Salwa terus manata hidup, memantaskan diri dengan belajar dan mendekatkan diri pada Rabb. Meskipun sudah setahun mondok, ia belum bisa hidup tanpa bunda. Suara dan wajah bunda selalu melintas dibenaknya. Namun ia berusaha menahan gelora rindu yang membara ingin berjumpa orang tua. Koleganya, di pesantren, tidak pernah henti menuntun Salwa agar semangat hidup walau tiada seatap dengan sosok wanita yang melahirkannya. 

Di sela-sela kebosanan hidup, jenuh dengan nuansa penjara suci, dan jauh dari orang tua, muncul sosok pemuda berdarah biru keturunan Portugis, yang sudah lama bermukim di Aceh Jaya sejak Portugis melebarkan sayap-sayap perdagangannya di tanah rencong.

Tgk Fata, begitu para santri memanggilnya. Fata memang guru pengajian yang sangat dekat dengan pimpinan pesantren. Ia dipercayai mengomandoi manajemen pesantren ketika pimpinan yang biasa disapa Abu tiada di kediaman.

Kini, Salwa gadis asal Pidie Jaya menjadi murid andalan Fata. Perempuan murah senyum itu kerap memenangkan perlombaan. Torehan prestasi unggul telah jadi warna baru sejak ia mondok. Tanpa sadar, Salwa seperti menaruh rasa pada Fata yang selalu membimbingnya demi memahami agama lewat kitab klasik.

Kehadiran Fata bak obat penawar rindu Salwa terhadap orang tua. Salwa seakan mendapatkan energi baru untuk betah berlama-lamaan di pesantren. Saraf-sarafnya yang malas seperti kesetrum semangat jihad. Tidak pernah Salwa absen menghadiri pengajian selama Fata menjadi guru kelasnya.

Suatu pagi, di bawah pohon mangga, tempat santri nonggkrong sambil istirahat. Salwa mulai meresapi hidup. Sentuhan lembut angin pagi membuatnya membayangkan, akhir-akhir ini hari yang dilaluinya di pemondokan kian seru.

“Aku mencintai Pesantren Budi,” celutuk Salwa, senyum tanpa beban terlihat nyata di ujung bibir.

Fata, sosok yang paling dikagumi banyak santriwati. Bila Allah merestui, rasanya tiada wanita yang menolak menjadi pendamping Fata. Wajahnya yang adem seakan menambah rambu-rambu cinta Salwa kepada Fata. Cinta suci ini disimpan di sanubari dan hanya diadukan pada Allah. Ia sadar, tidak sepantasnya wanita menyampaikan rasa kepada lelaki sekaliber Fata.

Dibalik murninya cinta gadis asal Meureudu, ternyata Fata sudah menitip pesan kepada pimpinan pesantren, agar Abu menetapkannya sebagai guru kelas Salwa. Fata ingin menengenal Salwa lebih dekat lewat pendalaman bait-bait kata yang terurai dalam kitab fikih.

Fata sudah memperlihatkan rasa cintanya pada Salwa yang telah berusia dua puluh satu tahun. Usia yang sudah matang untuk dinikahi. Melalui pimpinan pesantren, Fata menyampaikan hajat untuk meng-khitbah Salwa. Abu merasa bahagia, murid emasnya akan mempersunting muridnya pula. Tanpa berpikir lama, Abu meneruskan niat hati Fata kepada pujaan hati, Salwa.

* 

Pagi itu, cahaya mentari meredup. Salwa yang sedang membersihkan asrama diminta menghadap Abu. Ia resah, jarang sekali pimpinan memanggil santri dalam durasi waktu yang memang disiapkan untuk membersihkan asrama. Tanpa bantahan, Salwa melangkah, menuju kediaman Abu.

Gadis yang sudah enam tahun mondok itu tersipu malu di hadapan guru besarnya. Abu dan Umi, yang menjadi orang tuanya di pesantren menatap Salwa, melihat tingkah yang tak biasanya. Sang guru yang didampingi isterinya berkata, “Tgk Fata hendak meng-khitbahmu dalam waktu dekat.”

Salwa terdiam lesu. Hatinya seakan berbunga-bunga mendengar berita yang menggemparkan hati. Dalam diamnya, Salwa teringat doa yang selalu dimohon agar Allah menjadikan Fata sebagai imamnya.

“Engkau tidak perlu menjawabnya sekarang, sampaikan niat pemuda itu pada orang tuamu,” pesan Abu pada Salwa.

Ia kembali ke kamar dengan membawa perasaaan bahagia. Belum pernah Salwa merasakan indahnya dunia seperti detik ini. Dengan hati gembira, Salwa menghubungi orang tua melalui handphone. Mulutnya terbata-bata, rasa sungkan dan malu terlihat jelas.

“Aku betah di sini, Bunda,” ucap Salwa. Bunda dan abah memahami kiasan Salwa. Ternyata, anak gadisnya sudah menemukan pangeran berkuda, yang dahulunya kerap dibaca dalam cerita fiksi. Orang tua Salwa ternyata sudah lama menanti anak gadisnya berbicara tentang sosok lelaki misterius titipan Tuhan.

*

Ketulusan cinta dua insan itu segera dipadukan. Salwa kembali ke kampung halaman di Pidie Jaya.  Ia akan mempersiapkan hari peminangannya yang sudah disepakati oleh kedua keluarga. Esok hari, rombongan keluarga Fata akan datang dari tanah dayah, Lamno, Aceh Jaya menuju negeri bidadari, Pidie Jaya. Orang-orang terlihat sibuk mempersiapkan resepsi peminangan Salwa dengan Fata.

Malam penantian tiba. Fata telah berjanji akan menunaikan tahajud bersamaan walau di tempat berbeda. Pria gagah itu mengirim pesan, “Salwa, mari kita tahajud dan mendoakan agar Allah meridai hubungan kita sampai akhir hayat.”

Salwa merasa terharu. Sungguh inilah harapan yang didambakannya sejak mengenal Fata. Mereka menunaikan tahajud yang diselip untaian doa di penghujung malam. Fata kembali mengirim pesan, “Salwa, pagi ini rombongan dari Aceh Jaya akan menuju Pidie Jaya, pukul 08.00 WIB.  Dengan cinta yang tulus, aku meminangmu. Siapkan dirimu duhai gadis pujaanku.” Salwa berlinang air mata haru saat membaca isi pesan Fata. Sebentar lagi Salwa akan menjadi permaisurinya.

Sanak famili Salwa mempersiapkan tempat berlangsunya resepsi pinangan. Segala makanan telah disiapkan demi menjamu rombongan istimewa dari balik gunung Gurutee dan Seulawah.

Mendekati pukul delapan pagi, hari Minggu, 26 Desember 2004, tiba-tiba bumi berayun kencang. Getaran bumi mulai terasa kuat. Beberapa kali hentakan membuat suasana mulai panik. Seluruh tanah Aceh bergetar dahsyat. Tidak lama kemudia, terdengar suara letupan keras tiga kali berturut-turut dari arah laut Samudera Hindia. Suasana yang tadinya bahagia mulai resah. Orang-orang berlarian meninggalkan rumah. Beberapa bangunan tampak roboh dengan getaran gempa maha dahsyat.

Salwa dan keluarga mulai khawatir.  Mereka semua keluar rumah, berdiri di halaman dengan gerakan cemas. Salwa menccoba menghubungi nomor Fata. Panggilan tidak masuk. Panggilan diulang-ulang. “Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan,” begitu suara nyaring dari handphone yang menempel di telinga.

Aura Salwa mulai masam. Ia khawatir dengan kondisi Fata dan keluarga. Gadis ini belum kehabisan akal. Ia menelpon bunda Fata. Nomornya tidak aktif. Salwa meminta abahnya untuk menghubungi abah Fata. Nomornya masuk dan berdering, tetapi panggilan tidak dijawab.

Masih di halaman rumah, mereka saling bertanya. “Ada apa?” dan “Apa yang terjadi?”. Keluarga Salwa yang menanti rombongan pinangan mulai resah. Di Aceh Jaya, keluarga Fata telah kocar kacir. Mereka berlarian meninggalkan rumah menuju perbukitan. Air laut bercampur lumpur hitam menyusup ruang dan lorong. Sesekali, hantaman gelombang meruntuhkan rumah-rumah warga.

Fata dan bundanya telah telah hilang ditelan gelombang tsunami bersama rombangan yang tidak sempat menyelamatkan diri. Akses jalan terlihat rusak. Kendaraan tidak ada lagi yang melintas. Lampu padam dalam sekejab, jaringan telepon mulai terganggu. Hanya terdengar desahan kesakitan dan kesedihan warga yang selamat dari terjangan air berlumpur ganas.

Abah Fata yang tidak tahu keberadaan anak dan istri, berusaha mencari tempat aman, di perbukitan. Hanya ada pakaian di tubuhnya dan handphone yang sempat diselamatkan. Abah Fata mendekat ke suatu lokasi. Kata warga, di bukit itu terdapat sinyal yang bisa dijadikan tempat untuk alat komunikasi jarak jauh. Dalam kesedihan, ia mengirim pesan pada ayah Salwa.

Handphone berdering, tanda pesan masuk. Ayah Salwa langsung membuka pesan yang sudah lama menanti kabar dari rombongan. Semua mendekati ayah, matanya tertuju ke layar handphone. Mereka membaca sama-sama pesan itu, “Assalamualaikum, kami di Aceh Jaya dilanda gempa dan tsunami. Fata dan bundanya telah menghembus nafas terakhir di telan badai tsunami.”

Mengetahui kabar itu, hati Salwa tersendat. Gemuruh nafasnya tidak teratur. Hatinya berguncang melebihi dahsyatnya gempa dan tsunami. Perasaan Salwa bagai dihantam rencong berkat. Mata beningnya mulai mencucurkan gumpalan mutiara. Semuanya merasa syok. Salwa tak kuasa menahan pedihnya berita ini. Dalam sekejap, semua keluarga menetaskan air mata. Salwa mulai lesu tidak berdaya. Pandangannya mulai remang-remang. Tiba-tiba gadis ayu itu jatuh pingsan.

*

Sejak kejadian itu, Salwa patah semangat. Dia sering mengasingkan diri dari keramaian. Waktunya dihabiskan hanya di kamar sederhana untuk mengulang pelajaran lama, membaca Qur’an dan berzikir. Sangat jarang ia keluar rumah, walau hanya untuk menghembus udara segar. Rekan-rekannya mulai kehilangan sahabat cantik dan salihah.

Salwa tidak ingin lagi berbicara tentang pria. Niatnya untuk menikah telah dikubur dalam-dalam. Namun orang tua Salwa khawatir dengan kondisi putrinya yang sudah jarang makan, tubuhnya kurus. Salwa seperti tidak punya cita-cita lagi bergandengan dengan pria lain.

*

Usianya kini beranjak 32 tahun. Ayah mencoba mengenalkan Salwa  dengan anak rekan kerjanya. Pemuda tampan itu juga pernah mondok empat tahun walau tidak sehebat Fata. Kini, pemuda asal Padang, Sumatera Barat itu berdagang di jalan lintas Medan-Banda Aceh, tepat di Kabupaten Pidie Jaya.

Setahun terakhir, Salwa seolah mendapat secercah cahaya dalam hidupnya. Hadi, pria Padang mampu menaklukkan hati Salwa yang sebelas tahun mengeras. Hati Salwa melebur deras saat mengenal pribadi Hadi. Sosok pemuda bersahaja itu mampu memikat perasaan gadis yang lama mengabaikan gombalan pria.

Usaha ayahnya untuk menghidupkan kembali semangat Salwa berbuah hasil. Kedua keluarga saling sepekat untuk meresmikan hubungan Salwa dengan Hadi pekan depan. Benih-benih cinta mulai tumbuh subur di relung hati kedua insan yang sedang dimadu asmara.

Rencana persepsi pesta pernikahan diadakan 8 Desember 2016, setelah seminggu akad nikah terucapkan. Ribuan undangan telah dibagikan. Saudara dan kerabat Salwa yang berjauhan telah tiba di rumah bahagia. Ingin menyaksikan momen deklarasi cinta Salwa dan Hadi.

Keluarga dan rombongan pengantin laki-laki dari Padang telah sampai di Pidie Jaya, sehari sebelum pesta. Mereka menginap di toko, tempat Hadi berjualan. Rombongan amat senang menghirup udara Aceh. Ada yang baru pertama kali menginjak kaki di tanah Serambi Mekah. 

“Aceh sangat indah dan islami”, ucap seorang ibu asal Padang yang ikut rombongan Hadi.

Malam itu seakan berjalan lamban. Hadi dan Salwa serasa tidak sabaran menanti mentari pagi. Pelaminan yang telah didekorasi indah seolah memanggil mereka untuk bersanding memadu kasih. Pada seperti tiga malam, Hadi mengirim pesan pada Salwa.

“Sayang bangun, kita tunaikan tahajud sama-sama. Nantikan abang besok di pelaminan kita.”

Salwa tersenyum bahagia, pria yang mengirim pesan akan menjadi raja di pelaminannya esok. Keduanya melaksanakan tahajud di tempat berbeda, dalam keheningan malam.

Detik-detik ujung tahajud bumi Aceh mulai bergetar. Kabupaten Pidie Jaya terasa berayun kencang. Dalam waktu sekejap, beberapa rumah roboh. Lampu mulai padam. Pekat malam makin mengental. Suasana rumah Salwa jadi tak karuan. Ia kembali teringat kisah pilu dua belas tahun silam.

Pagi hari, dalam cahaya remang-remang, ayah Salwa mendapat telepon.  Kabar duka kembali menyelimuti Salwa. Tante Hadi mengabarkan toko tempat Hadi bermalam telah roboh akibat gempa Aceh 8 Desember 2016, yang terjadi menjelang Subuh. Bangunan dua lantai itu rata dengan tanah dan sederatan toko lainnya. Hadi dan tiga kerabatnya tertimbun puing-puing bangunan. Semua rombongan yang bermalan di toko telah menghembus nafas terakhir. Hadi tertimpa kontruksi beton di bagian kepala dan patah tulang. Nyawa tidak sempat tertolong.

Tangisan Salwa pecah. Perasaannya bagai dihantam petir keras. Jiwanya seakan disayat sembilu. Perih duka yang melandanya bagaikan luka ditusuk duri. Keluarga tidak kuasa membendung luka hati Salwa. Semua kerabat Salwa menguraikan air mata atas insiden ini. Tubuh Salwa mulai kedinginan. Dunia serasa berhenti berputar. Bunda Salwa memeluk tubuh gadis malang itu dengan linangan air mata.

“Bersabarlah sayang, Allah tidak pernah berniat buruk pada hamba-Nya”, ucap bunda merasa iba

*Cerita ini, perpaduan fiksi dan nyata. 8 Desember 2016 gempa melanda Pidie Jaya. Pagi itu, satu romobangan pengantin dari Padang Sumatera Barat menginap di dekat kediaman pengantin wanita. Naas, pengantin laki-laki meninggal tertimpa runtuhan bangunan. Sosok gadis Pidie Jaya hanya bisa menatap pilu pelaminan yang tak pernah dihadiri pengantin pria.

1 comment:

Silakan beri tanggapan dan komentar yang membangun sesuai pembahasan artikel.